
TERKENANG. Tahun 2007 saya mendapat hadiah uang tunai Rp 10 juta. Cash, karena menang lomba.
Selain piala dan sertifikat, ada sesi naik podium pula, berbicara dengan mix dan memberikan pidato singkat sebagai seorang juara. Saat itu juara 2.
Masuk tiga besar itu sangat diluar dugaan. Karena pada waktu itu, ikut lomba juga cuma iseng-iseng. Pasang tinggi rasa percaya diri, karena ini bukan lomba kecantikan atau bela diri. Ngarep menang pasti, tapi tidak terlalu optimis. Tau ada lomba itu juga dari Koran Kompas dan yang menyelenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup.
Orang disekitar saya tidak tahu saat itu saya ikut lomba. Karena sistem lomba hanya mengirim saja. Tidak orang tua, adek atau mbah saya. Bahkan orang dekat, atasan atau rekan kerja yang bersebelahan dengan meja saya. Tidak satupun tau!.
Mereka baru tau setelah penyelenggara mengumumkan saya bagian pemenang.
Entahlah, dulu nothing to lose saja. Tak terpikirkan sedikitpun, berapa ribu orang yang bakal jadi saingan (secara diiklanin gitu di media terbesar nasional, plus lewat situs situs tertentu juga dunia maya). Tidak mengaca pula, selihai apa saya berani ikut lomba.
Ah, masa itu.
***
Uang sudah pasti habis. Sekarang, tersisa buku, sertifikat, kenangan indah dan piala (yang sudah patah karena dijatuhkan bocah. Hiks hiks).
Hanya ingin menasehati diri agar berfikir. Seandainya, saat itu saya ragu, seandainya saya melipat saja harian surat kabar itu, seandainya saya malu untuk melaju, seandainya saya tak peduli (pada pengumuman) seperti orang disekitar saya waktu itu, seandainya saya merasa tidak pantas untuk tampil, seandainya saya merasa kalah sebelum bertanding, lantas cerita apa yang bisa saya tulis hari ini?
Keberanian apa yang bisa saya ajarkan kepada anak - anak dan diri saya sendiri?
Lets move on. Setiap kita memegang pena yang dapat kita pakai untuk menorehkan sejuta karya. Kita yang memahami dan pegang kendali untuk menggerakkannya.
Stop menyalahkan keadaan, berhentilah menyesal. Yang penting usaha maksimal. Indahnya hidup jika kita bisa bahagia hari ini, karena itu adalah kenangan tak ternilai suatu hari nanti.
Dan bahagia itu, tak sebatas perhatian suami, pasangan, teman atau tetangga yang selalu sedia datang, membantu dan berbagi. Tapi bahagia itu dari hati, dari dirimu sendiri, yang rajin kau sirami dengan sentuhan bahasa Rabbani!.
Dan bahagia itu, tak ternilai sebatas uang, fasilitas, omset usaha atau menang lomba.
Karena bahagia itu, adalah saat kau mau berusaha!
Bunda Jumi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar